MOLEKUL PANCASILA KIRIM UCAPAN BELASUNGKAWA KE KEDUTAAN BESAR IRAN DI JAKARTA

Iran Tunjuk Ayatollah Alireza Arafi Sebagai Pelaksana Tugas Sementara Pemimpin Tertinggi

Jakarta, 1 Maret 2026 – Organisasi Molekul Pancasila secara resmi telah mengirimkan surat ucapan belasungkawa mendalam kepada Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta atas wafatnya Imam Besar Iran, Imam Ali Al Khomeini.

Surat yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Molekul Pancasila, Dody YS, tersebut juga telah dipublikasikan melalui jaringan media Molekul Pancasila sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dan kepedulian terhadap dinamika global.

Dalam pernyataan resminya, Molekul Pancasila menyampaikan doa:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Innalillahi wa innailaihi rojiun.
ALLAHUMMAGHFIRLAHU, WARHAMHU, WA’AFIHI, WA’FUANHU.

Organisasi tersebut menyatakan bahwa wafatnya Imam Besar Iran merupakan peristiwa besar yang mengguncang dunia Islam dan komunitas internasional. Molekul Pancasila juga menyampaikan keprihatinan terhadap situasi geopolitik global dan pentingnya penghormatan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional, termasuk peran International Court of Justice (ICJ) dalam menjaga tatanan dunia yang berbasis pada supremasi hukum dan penyelesaian sengketa secara damai.


🇮🇷 Iran Memiliki Ayatollah Baru

Seiring dengan situasi tersebut, Iran secara konstitusional telah menunjuk figur ulama senior untuk menjalankan tugas sementara kepemimpinan.

Ayatollah Alireza Arafi, mantan pemimpin seminari Iran dan Imam Jumat di Qom, dipilih oleh Dewan Penentuan Kepentingan Sistem untuk sementara menjalankan tugas-tugas Pemimpin Tertinggi bersama Presiden dan Kepala Kekuasaan Kehakiman.

Hal ini merujuk pada Pasal 111 Konstitusi Republik Islam Iran, yang menyatakan bahwa apabila Pemimpin Tertinggi meninggal dunia, mengundurkan diri, atau diberhentikan, maka sebuah dewan sementara yang terdiri dari Presiden, Kepala Kekuasaan Kehakiman, dan salah satu ulama Dewan Penjaga Konstitusi yang dipilih oleh Majelis untuk Menentukan Kepentingan Sistem, akan mengambil alih seluruh tugas kepemimpinan hingga ditetapkannya pengganti definitif.


Profil Ayatollah Alireza Arafi

“Insinyur Hawzah Modern” dan Tokoh Lembaga Strategis Iran

Sheikh Ali Reza Arafi lahir di Meybod, Provinsi Yazd, pada tahun 1959. Ia berasal dari keluarga ulama; ayahnya, Muhammad Ibrahim Arafi, dikenal sebagai tokoh agama yang dekat dengan Ruhollah Khomeini.

Ia menempuh pendidikan agama di Hawzah Qom di bawah bimbingan marja besar seperti Ayatollah Vahid Khorasani dan Ayatollah Javadi Amoli, memperdalam fiqh, usul fiqh, dan filsafat Islam.

Arafi dikenal bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai negarawan dan teknokrat religius. Beberapa jabatan strategis yang pernah diembannya antara lain:

  • Direktur Hawzah Agama di seluruh Iran
  • Anggota Faqih Dewan Penjaga Konstitusi
  • Anggota Majelis Ahli Pemimpin
  • Imam Jum’at Kota Qom

Di tingkat internasional, ia pernah memimpin Universitas Al-Mustafa Internasional dan mendorong globalisasi pendidikan agama dengan membuka cabang-cabang Hawzah di berbagai negara.

Visinya meliputi:

  • Integrasi ilmu sosial modern ke dalam kurikulum Hawzah
  • Pengembangan konsep “fiqh peradaban” atau “fiqh sistemik”
  • Modernisasi manajemen lembaga keagamaan

Arafi dikenal memiliki gaya retorika yang tenang dan diplomatis, namun tetap tegas pada prinsip Wilayah Faqih. Di kalangan politik Iran, ia dipandang sebagai figur dengan kapasitas administratif tinggi dan jaringan kelembagaan luas.

Pengamat menyebutnya sebagai “teknokrat dengan jubah ulama”, sosok yang berperan dalam mentransformasi Hawzah menjadi institusi modern dengan pengaruh lintas batas.


Komitmen pada Perdamaian dan Supremasi Hukum

Dalam penutup pernyataannya, Molekul Pancasila menegaskan bahwa perdamaian dunia hanya dapat ditegakkan melalui penghormatan terhadap hukum internasional, dialog yang bermartabat, serta komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Organisasi tersebut berharap dinamika ini menjadi momentum refleksi bagi komunitas global untuk kembali kepada supremasi hukum dan penyelesaian konflik secara damai.

(MSN/NVN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *